LDII Libatkan 450 Personel dalam Pemantauan Hilal Awal Ramadan dan Syawal 1446 H

Tim Rukyat Hilal DPW LDII DIY melakukan pengamatan hilal Ramadhan 1446H.

Dalam upaya mendukung ketetapan resmi pemerintah terkait penentuan awal bulan Hijriah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) kembali mengerahkan tim rukyatul hilal yang tersebar di seluruh Indonesia. Sebanyak 450 personel terlibat aktif dalam pengamatan hilal awal Ramadan dan 1 Syawal 1446 Hijriah.

Sejak dibentuk pada 2014, tim rukyat LDII telah menunjukkan konsistensi dalam pelaksanaan rukyatul hilal. Anggota Departemen Pendidikan Keagamaan dan Dakwah DPP LDII, Ustaz Wilnan Fatahilah menjelaskan, bahwa tahun ini terdapat 88 titik pemantauan untuk awal Ramadan dan 91 titik untuk 1 Syawal. Seluruh titik tersebut berkoordinasi dengan lokasi resmi pemantauan milik Kementerian Agama.

“Cuaca menjadi tantangan utama dalam pengamatan hilal. Meskipun secara astronomis ketinggian hilal sudah memenuhi syarat visibilitas, namun faktor seperti mendung dan hujan sering menghambat keberhasilan pengamatan. Karena itu, LDII membentuk tim yang terlatih dan solid guna mengantisipasi berbagai kendala di lapangan,” ujar Ustaz Wilnan.

LDII secara rutin mengadakan pelatihan rukyat sejak 2014, dengan pelatihan awal digelar di kantor DPP LDII Jakarta. Kegiatan ini melibatkan sejumlah pakar seperti Ahmad Izzuddin dari Kemenag RI dan Ismail Fahmi. Pelatihan berkembang melalui kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Planetarium Jakarta dan Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU). Pakar lain yang turut terlibat dalam pelatihan antara lain Ustaz Cecep Nurwendaya dan Ustaz Hendro Setiyanto dari Imah Noong, Lembang.

Sejak 2023, pelatihan intensif kembali digelar pasca pandemi dengan fokus pada penggunaan teleskop dan alat bantu optik lainnya. Kegiatan ini dilakukan di Pondok Pesantren Minhaajurrosyidiin dan menitikberatkan pada praktik langsung di lapangan.

Kini, hampir seluruh DPW LDII telah memiliki tim rukyat mandiri. Beberapa wilayah seperti DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sulawesi Utara bahkan telah menyelenggarakan diklat hisab secara independen. Materi yang diberikan mencakup pemahaman hisab-rukyat berdasarkan kriteria MABIMS lama dan baru, teknik kalibrasi arah kiblat, waktu salat, serta analisis citra hilal menggunakan perangkat lunak komputer.

Tim LDII juga aktif menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak, seperti BMKG, Kementerian Agama, dan Lajnah Falakiyah NU, demi meningkatkan akurasi dan validitas hasil pengamatan.

“Kolaborasi ini sangat penting, karena selain memperkuat hasil rukyat, juga memperkaya diskusi ilmiah di lapangan,” ujar Ustaz Wilnan.

Pengamatan hilal oleh tim LDII tidak terbatas pada momen-momen besar seperti Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah. Pengamatan juga dilakukan di awal setiap bulan Hijriah sebagai bagian dari latihan berkelanjutan guna meningkatkan keterampilan tim.

“Kegiatan ini kami lakukan rutin setiap bulan agar tim tetap terasah dan siap menghadapi berbagai kondisi pengamatan,” pungkasnya.

About KIM DPD

Check Also

Bupati Sleman Resmikan Gedung Serbaguna “Budi Luhur” Masjid Al Falah LDII Turi

Sleman (5/3) – Bupati Sleman, Harda Kiswaya bersama jajaran Pemeritah Kabupaten Sleman melaksanakan kegiatan Safari Tarawih …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *