
LDII Sleman – Bertempat di Masjid Jami’ Mulyo Abadi, Mulungan, pengajian generus LDII Sleman pada hari Minggu (27 /04/2025) berlangsung dengan antusias. Acara yang diikuti oleh peserta usia SMA ke atas ini mengangkat tema khusus tentang pentingnya berpakaian sesuai syariat dalam kehidupan sehari-hari.
Acara dimulai pada pukul 08.30 WIB dengan pembukaan oleh MC, dilanjutkan penyampaian materi yang pertama. Dalam kesempatan ini, H. Mohammad Sahli menyampaikan beberapa dalil, salah satunya berbunyi:
يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَٰرِى سَوْءَٰتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ ٱلتَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
Artinya: Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, supaya mereka selalu mengingatnya. (QS. Al-A’raf: 26)
Dalam wawancaranya, H Sahli selaku narasumber menyampaikan alasan utamanya memilih tema berpakaian adalah untuk memperkuat dasar pemahaman generus tentang pentingnya berpakaian sesuai syariat Islam. “Anak-anak sebenarnya sudah banyak yang berpakaian sesuai syariat, namun dengan diberikan ilmu ini harapannya mereka mengerjakan dengan dasar yang tegak, bukan hanya mengikuti tren ini dan itu,” jelasnya.
Penguatan Materi
Acara berlanjut dengan penyampaian nasihat sebagai materi kedua yang semakin memperkuat semangat generus dalam menjaga syariat di keseharian mereka. H Sahli menekankan bahwa tujuan dari materi ini adalah agar peserta tidak mudah terpengaruh arus mode dalam berpakaian karena kesadaran iman sebagai seorang muslim dan muslimah. “Dengan berilmu, mereka paham bahwa di setiap kesempatan, bahkan seperti olahraga, sekolah, atau ke kantor, mereka tetap bisa menyesuaikan pakaian sesuai syariat. Ini juga menjadi bagian dari syiar Islam,” tambahnya.
Pengajian ini diharapkan menjadi langkah awal untuk membentuk generasi muda LDII Sleman agar tidak hanya memahami agama secara tekstual, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan nyata. H Sahli menutup kegiatan dengan pesan kepada generus supaya saling ingat-mengingatkan, berdasarkan dalil “Qulil haqqo walau kaana murron,” artinya “Katakanlah yang benar meskipun itu pahit (berat untuk dikatakan) (HR. Ibnu Hibban)”.
Writer: Hafida
DPD LDII SLEMAN Lembaga Dakwah Islam Indonesia