Merawat Jenazah, Merawat Kemanusiaan: Refleksi Pelatihan Inisiasi LDII

Peramutan Jenazah
PC LDII Gamping menggandengan PC LDII Sedayu dan Kasihan menggelar pelatihan peramutan jenazah.

Bantul (2/6). Masjid Almahdiyyin, Kasihan, Bantul dipenuhi kurang lebih 100-an jamaah yang duduk melingkar mengitari sebuah kain kafan putih. Mereka datang bukan untuk pengajian rutin, melainkan mengikuti pelatihan peramutan jenazah yang digelar PC LDII Gamping bersama PC LDII Sedayu dan Kasihan, Kamis malam (29/5). Di tengah ruangan, tiga ustadz—H. Sehadi, Saminu, dan H. Supandi—bersiap membagikan ilmu yang jarang diajarkan namun pasti dibutuhkan.

“Siapa yang berani angkat tangan kalau tetangganya meninggal besok, apakah siap memandikan?” kata Ustadz Sehadi membuka dengan pertanyaan yang membuat semua terdiam.

Hanya beberapa tangan yang terangkat ragu-ragu. Itulah realitas yang memicu PC LDII Gamping berkolaborasi dengan PC LDII Sedayu dan Kasihan menggelar pelatihan ini.

Kematian memang topik yang sering dihindari. Padahal, seperti yang disampaikan Ustadz Saminu malam itu, “Merawat jenazah bukan cuma kewajiban, tapi bentuk cinta terakhir kita pada saudara seiman,” kata-katanya mengingatkan bahwa di balik teknis memandikan dan mengafani, ada nilai kemanusiaan yang dalam.

Menariknya, peserta tidak hanya didominasi orang tua. Banyak anak muda hadir, bahkan ada mahasiswa yang datang langsung setelah kuliah. “Saya datang karena ingat nenek saya meninggal beberapa waktu lalu. Waktu itu keluarga ya kebingungan, untung ada tim yang cepat tanggap membantu,” cerita salah satu peserta putri.

Peramutan Jenazah
PC LDII Gamping menggandengan PC LDII Sedayu dan Kasihan menggelar pelatihan peramutan jenazah.

Ustadz H. Supandi dengan sabar mendemonstrasikan cara memandikan jenazah. Tidak ada yang merasa jijik atau takut. Justru peserta ikut mendengarkan dengan khusyu’ seakan penuh kesadaran bahwa suatu hari nanti, merekalah yang akan berbaring di sana, berharap ada yang merawat dengan penuh kasih.

Pelatihan berlangsung dua jam, dari pukul 19.00 hingga 21.00. Waktu yang singkat untuk ilmu seberat ini, namun cukup untuk menanamkan benih kepedulian. LDII membuktikan bahwa organisasi keagamaan tidak melulu soal ritual, tapi juga tentang membangun masyarakat yang saling menopang.

Malam ditutup dengan makan bakso bersama, momen sederhana namun penting. Di sela-sela seruput kuah hangat, peserta berbagi cerita dan bertukar nomor telepon. Serta sedikit banyak berdiskusi serta berbincang terkait keilmuan.

Pelatihan ini mungkin hanya setitik upaya di tengah lautan kebutuhan. Namun dari banyaknya orang yang pulang malam itu, lahirlah relawan-relawan potensial yang siap meringankan duka keluarga yang ditinggalkan. Bukankah ini esensi beragama yang sesungguhnya—hadir untuk sesama, terutama di saat-saat tersulit? (*Rvld/Frn)

About admin

Check Also

PC LDII Prambanan

Perkuat Kerukunan di Bulan Suci, PC LDII Prambanan Ikuti Tarling Panewu Prambanan

Sleman (13/3). Pengurus Cabang (PC) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kapanewon Prambanan turut berpartisipasi dalam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *