
Sleman (17/10) – Ketua DPW LDII Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), H. Atus Syahbudin, membuka Musyawarah Daerah (Musda) VIII LDII Kabupaten Sleman. Dalam sambutannya, Atus menekankan pentingnya peran ulama dan pengurus dalam membimbing organisasi. Ia juga mengingatkan kembali sejumlah amanat Musda sebelumnya, terutama terkait pelestarian lingkungan dan pengembangan program pengabdian masyarakat.
Menurut Atus, kekuatan LDII terletak pada pembinaan para kyai yang memberikan arahan kepada organisasi. Ia berharap para kyai terus memberikan nasihat agar Musda VIII berjalan lancar dan menghasilkan keputusan yang membawa keberkahan.
“Sesungguhnya LDII ini Kekuatannya di para Kyai, LDII ini dibina oleh para Kyai, Maka kami nyuwun arahan dan pituturnya agar musda sleman ini bisa berjalan dengan aman selamat lancar barokah” Ujar Atus yang juga merupakan Dosen Kehutanan di Universitas Gajah Mada.
Atus mengungkapkan, lima tahun lalu dirinya menitipkan dua amanat kepada DPD LDII Kabupaten Sleman. Amanat tersebut berkaitan dengan pelestarian lingkungan di lereng Merapi dan kebersihan kawasan Selokan Mataram. Ia mengajak peserta Musda mengevaluasi pelaksanaan kedua amanat tersebut melalui laporan pertanggungjawaban kepengurusan.
Untuk program di Lereng merapi, Atus mengapresiasi keberhasilan LDII Sleman dalam mengembangkan Kampung Iklim di Sangurejo di Kapanewon Turi. Program tersebut telah mengantarkan Sangurejo maju dalam penilaian Program Kampung Iklim (ProKlim) kategori tertinggi, yaitu ProKlim Lestari. Ia berharap program tersebut dapat meraih hasil sesuai harapan dan menjadi yang pertama di DIY.
“DPD sleman ini berhasil mengkreasi kampung iklim utama sangurejo di Kapanewon Turi. Dan sudah selesai di Juli Kemarin maju di Proklim yang tertinggi yaitu Proklim lestari. Mohon doanya ini bisa tercapai karena kalau bisa tercapai ini yang pertama di DIY” tegasnya.
Dorong Kepedulian terhadap Lingkungan
Dari Sangurejo, LDII Sleman juga mengembangkan museum ProKlim sebagai sarana edukasi lingkungan. Inisiatif tersebut menunjukkan upaya organisasi dalam memperluas manfaat program lingkungan kepada masyarakat. Atus mendorong pengurus untuk terus mengembangkan kegiatan serupa sebagai bentuk pengabdian nyata.
Atus mengingatkan bahwa dakwah tidak hanya berkaitan dengan kegiatan keagamaan. Menurutnya, perubahan iklim dan persoalan sampah membutuhkan kepedulian serta tindakan nyata dari seluruh elemen masyarakat. Karena itu, ia mengajak para kyai dan pengurus untuk turut memperkuat edukasi mengenai kebersihan, pengelolaan sampah, dan kesehatan.
“Bapak – bapak kyai amalsholih untuk arahanya terkait kebersihan, memang kita lembaga dakwah, tetapi hari ini eranya adalah isu global warming, harus peduli dengan pengelolaan lingkungan Hidup, sampah kemudian juga kesehatan.”

Selain lereng Merapi, Atus menyoroti amanat terkait kawasan Selokan Mataram yang perlu mendapat perhatian. Ia berharap masjid-masjid LDII, Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah dapat membangun kerja sama menjaga kebersihan kawasan tersebut. Kolaborasi lintas organisasi keagamaan ini diharapkan memperkuat kerukunan sekaligus menghadirkan solusi terhadap persoalan sampah.
Tekankan Peran LDII dalam Pencapaian SDGs
Atus menilai program lingkungan yang telah berjalan dapat menjadi pijakan untuk memperluas kontribusi LDII. Ia mendorong pengurus agar tidak berhenti pada capaian tingkat lokal maupun nasional. Ke depan, LDII Sleman diharapkan mampu mengembangkan program yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Sebagai bagian dari agenda tersebut, Atus menyoroti pentingnya pembinaan 29 Karakter Luhur. Menurutnya, keberadaan berbagai perguruan tinggi di Sleman membuka peluang untuk memperkuat pembinaan karakter generasi muda. Program tersebut diharapkan berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan dan kehidupan bermasyarakat.
Atus juga mengajak LDII Sleman memperkuat kemitraan dengan berbagai pihak. Kerja sama dengan DPR RI, Bupati Sleman, DPRD, dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dapat mendukung penyelesaian berbagai persoalan bersama. Kemitraan ini sejalan dengan SDGs ke-17 yang menekankan pentingnya kolaborasi untuk mencapai tujuan pembangunan.
Menutup sambutannya, Atus mengajak seluruh jajaran LDII Sleman menjadikan Musda VIII sebagai momentum memperkuat pengabdian. Ia berharap program yang telah berjalan dapat berlanjut dan berkembang melalui kerja sama yang lebih luas. Dengan demikian, kontribusi LDII dapat dirasakan masyarakat melalui kegiatan yang nyata dan berkelanjutan.
Melalui Musda VIII, LDII Sleman diharapkan mampu merumuskan program kerja yang responsif terhadap tantangan zaman. Kepedulian terhadap lingkungan, pembinaan karakter, dan penguatan kemitraan menjadi bagian penting dari agenda tersebut. Semangat kolaborasi diharapkan terus tumbuh untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Sleman.
Writer: Ichsan
DPD LDII SLEMAN Lembaga Dakwah Islam Indonesia