
Sleman (28/7). Pemerintah Kapanewon Ngaglik bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kapanewon Ngaglik kembali menggelar program Subuh Keliling (Suling Naga). Kegiatan yang menjadi momentum memperkuat silaturahim dan kerukunan antarormas keagamaan ini berlangsung di Mushola Al Manshurin, Ngaglik, Sleman, Minggu (19/7/2026).
Perwakilan Yayasan Bina Insan Karakter Indonesia, Budi Setyo Wahono, saat membuka kegiatan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat toleransi dan kerukunan antarormas keagamaan di wilayah Sleman. Pinisepuh pondok, takmir masjid, dan tokoh PAC LDII Sariharjo ini menilai kebersamaan antara LDII, Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan organisasi keagamaan lainnya menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan masyarakat yang damai dan kondusif.
Kegiatan diawali dengan shalat subuh berjamaah yang berlangsung khusyuk dan penuh kehangatan. Mushola Al Manshurin merupakan tempat ibadah di bawah naungan PAC LDII Kalurahan Sariharjo yang berada tepat di lingkungan Pondok Pesantren SMA Insan Mulia Boarding School. Seluruh santri beserta pengurus pondok turut hadir memadati shaf bersama warga masyarakat sekitar dan para tamu undangan.
Turut hadir dalam kesempatan tersebut Ketua MUI Kapanewon Ngaglik Hajar Dewantara, beserta jajaran pengurus, Panewu Ngaglik Agung Endarta beserta jajaran staf kapanewon dan para dukuh dari beberapa padukuhan sekitar. Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sleman, Wawan Widiantoro, yang pernah menjabat sebagai Panewu Ngaglik, turut hadir sekaligus mempererat tali silaturahim dengan warga setempat.
Selain itu hadir perwakilan ormas keagamaan, di antaranya Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, serta ormas lainnya. Masyarakat umum dan jajaran pengurus PC LDII Kapanewon Ngaglik serta PAC Kalurahan Sariharjo juga turut hadir.
Sebagai wujud kepedulian sosial dan dukungan terhadap sarana ibadah warga, pada momen kebersamaan ini pihak Kapanewon Ngaglik turut menyerahkan bantuan shodaqoh kepada kepengurusan Mushola Al Manshurin.
Dalam sesi tausiyah dan nasihat keagamaan, ia menekankan pentingnya merawat toleransi serta kerukunan antar-ormas keagamaan di wilayah Sleman. Kebersamaan antara LDII, NU, Muhammadiyah, dan ormas keagamaan lainnya dinilai sebagai fondasi utama menciptakan lingkungan masyarakat yang damai dan kondusif.
“Toleransi dan kerukunan beragama ini harus terus kita jaga dan jalin erat antarormas. Terlebih LDII di sini memiliki sekolah berbasis boarding school. Mari kita bina dan dampingi bersama para generasi muda ini agar tumbuh menjadi generus yang tetap suci, berkarakter mulia, serta terbebas dari praktik KKN dan korupsi,” ujarnya.
Melalui program kolaborasi Suling Naga ini, diharapkan hubungan harmonis antara pemerintah daerah, MUI, lembaga pendidikan/pondok pesantren, dan seluruh komponen masyarakat terus terjalin erat demi mencetak generasi penerus bangsa yang unggul, berakhlak mulia, serta berintegritas.
DPD LDII SLEMAN Lembaga Dakwah Islam Indonesia