Tradisi Kepedulian Sosial dalam Safari Ramadan: Ponpes Al Ubaidah Berbagi Kasih kepada Kaum Duafa dan Anak Yatim

Safari Ramadan
Ponpes Al Ubaidah bersama Forkompimda menyelenggarakan Safari Ramadan sekaligus memberikan bantuan sosial kepada duafa dan yatim-piatu, Kamis (21/3/2024).

Jawa Timur (21/2) – Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ubaidah, yang terletak di Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur, menyelenggarakan Safari Ramadan bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) pada Kamis (21/2/2024). Acara tersebut menjadi ajang silaturahim antara para pejabat pemerintah di Nganjuk dengan tokoh agama dan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Pengasuh Ponpes Al Ubaidah, Habib Ubaidillah Al Hasany, memberikan bantuan sosial kepada 350 kaum duafa dan anak yatim-piatu. Ia menyatakan bahwa membantu fakir miskin dan yatim-piatu di sekitar Ponpes Al Ubaidah merupakan sebuah tradisi tahunan yang telah dilakukan sejak zaman pendiri pondok pesantren tersebut, KH Nurhasan Ubaidah.

“Kami meneruskan tradisi baik ini dengan memberikan bantuan setiap tahun kepada fakir miskin dan anak yatim-piatu, sebagaimana yang telah dilakukan oleh KH Nurhasan dahulu yang gemar membantu warga di sekitar pondok pesantrennya,” tutur Habib Ubaid.

Menurut Habib Ubaid, kewajiban bagi mereka yang mampu dan berkemampuan untuk membantu kaum duafa dan anak yatim piatu. “Ini merupakan tanggung jawab yang akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat. Oleh karena itu, kami menjalankan kewajiban kami sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas sosial sesama umat Islam,” tambahnya.

Habib Ubaid menekankan bahwa menahan lapar merupakan ujian yang berat, terutama bagi mereka yang juga harus menanggung beban akibat bencana. “Saat menjalankan puasa, masih ditimpa musibah dan gagal panen tentu sangat berat. Ini adalah pelajaran hidup. Oleh karena itu, masalah kelaparan dan musibah adalah tanggung jawab kita semua,” ujarnya setelah kegiatan Safari Ramadan.

Bagi Habib Ubaid, Ramadan memiliki kemampuan untuk mengikat kembali dan memperkuat solidaritas dan kepedulian sosial, agar semua pihak lebih peduli terhadap sesamanya. Ramadan juga dianggap sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa setelah Pemilu, di mana tidak ada lagi polarisasi politik.

“Setelah Pemilu selesai, tidak ada lagi Indonesia 01, Indonesia 02, Indonesia 03. Semuanya menjadi satu, berkomitmen untuk Indonesia yang satu,” pungkasnya.

Sementara itu, Wakil Kepala Polisi Resor (Wakapolres) Nganjuk, Kompol Subiyantana, menyatakan bahwa situasi di wilayah Kabupaten Nganjuk selama Ramadan ini aman dan kondusif. “Warga dapat melaksanakan ibadah dengan aman dan antusias,” katanya.

Namun, pihaknya tetap mengingatkan agar berhati-hati terutama selama arus mudik. Kompol Subiyantana menekankan pentingnya pengendara untuk menggunakan helm dan tidak menggunakan ponsel saat berkendara, serta tidak mengemudi dalam kondisi mabuk.

Terhadap maraknya tawuran antar perguruan silat di Nganjuk, pihak kepolisian telah berkoordinasi dengan 18 perguruan silat di kabupaten tersebut. Polres Nganjuk terus meningkatkan kegiatan dan silaturahmi bersama para ketua perguruan silat. Langkah tersebut untuk memastikan kegiatan mereka mematuhi aturan dan berkontribusi pada membangun suasana yang aman di Kabupaten Nganjuk.

Safari Ramadan ini juga menjadi kesempatan untuk memberikan apresiasi kepada 21 atlet Persinas ASAD Ponpes Al Ubaidah. Atlet-atlet tersebut berpartisipasi dalam Kejuaraan Nasional Raja Brawijaya Open V 2024 dan Kejuaraan Lumajang Championship 1 yang memperebutkan piala Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

About Miftah Qoily

Check Also

LDII Sleman

Komitmen LDII Lindungi Anak dengan Jam Efektif Belajar dalam Rapat FKUB Sleman

Sleman (23/4) – LDII memiliki komitmen untuk bekerja sama dengan seluruh pihak dalam meningkatkan keamanan, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *